B2B atau Business-to-Business adalah hubungan, transaksi, atau proses bisnis antar perusahaan. Selama ini banyak bisnis-bisnis yang salah mengerti konsep B2B marketing. Banyak yang masih menganggap B2B marketing bentuknya masih sama. Jika kamu bekerja di perusahaan B2B pasti sering mendengar mitos-mitos ini:
“Marketing B2B itu kaku”
“Klien/konsumen B2B adalah perusahaan besar”
“Marketing B2B tidak memerlukan influencer”
“Marketing B2B berhubungan dengan perusahaan bukan orang”
“Teknologi adalah yang paling penting dalam marketing B2B”
Masih banyak lagi mitos-mitos dari konsep B2B yang sudah usang. Sekarang kita akan membenarkan mitos-mitos yang salah.
B2B marketing itu fun
Jika kamu banyak bergerak di digital marketing, kamu sangat mengerti bagaimana banyaknya informasi itu menjenuhkan. Membuat konten yang informatif dan edukatif seperti buku pelajaran sudah sangat kurang diminati. Yang dibutuhkan lebih ke bukti nyata yang bisa membuat mereka mengerti.
Konten informatif harus dikemas dalam bentuk yang menghibur, ringan untuk dibaca, tidak menggurui, menggunakan bahasa yang sederhana, dan lebih banyak pembuktian. Jadi mulailah mencari konten yang lebih fun untuk konten B2B.
Target konsumen B2B juga manusia
Banyak sekali orang yang bekerja di marketing B2B yang menganggap kalau konsumen B2B itu suka dengan birokrasi yang rumit (seperti isi form panjang), konten dengan bahasa yang resmi dan hanya membahas yang penting, dan merespon dengan lebih pelan dengan alasan “kita kan B2B.”
Yang kita harus mengerti, target konsumen B2B juga manusia loh. Mereka juga lebih tertarik dengan konten yang fun dibandingkan dengan yang kaku, mereka juga ingin prosedur yang lebih mudah dan cepat, mereka juga benci menunggu respon yang lama, dan banyak hal lagi.
Pada akhirnya, yang menjalankan perusahaan adalah manusia. Kita harus memandang mereka sebagai manusia juga bukan sebagai sebuah perusahaan. Maka mengincar sisi manusia adalah langkah yang lebih tepat.
Strategi marketing B2B memerlukan influencer juga
Pasti kamu menyadari kalau influencer di Indonesia itu sangat kuat pengaruhnya dalam keberhasilan marketing. Tapi kita hanya berfikir kalau Keanu hanya mau promosi makanan atau baju yang sifatnya B2C. Makanya hingga sekarang, perusahaan B2B enggan menggunakan strategi KOL karena berfikir kalau strategi itu hanya untuk B2C. Padahal semua bisnis bisa menggunakan strategi KOL, yang berbeda adalah influencernya siapa dan dibidang apa.
Jika kamu menjalankan strategi KOL untuk B2B, orang-orang seperti leader di industri tertentu atau ekspert bisa jadi influencer yang tepat. Contohnya jika kamu menjual jasa pembuat konten instagram, maka seorang ahli marketing sangat cocok untuk mempromosikan bisnis kamu.
B2B marketing juga butuh cerita
Storytelling atau cerita itu sangat dibutuhkan untuk terhubung dengan emosi dan hati dari audiens kita. Mereka butuh merasa dekat, relevan, dan kamu mengerti dengan problem mereka.
Karena itu, perusahaan B2B diluar negeri sudah banyak yang menggunakan testimonial atas nama orang dibandingkan perusahaannya. Cerita dari salah satu tim kamu, cerita sisi manusia dari perusahaan kamu, dan banyak lagi.
Untuk itu penting sekali menyesuaikan design, visual, gaya bahasa, dan lainnya untuk menjadi lebih ‘conversational’ atau berbahasa sehari-hari.
B2B marketing membutuhkan seorang expert sama dengan alat marketing yang modern
Oke B2B biasanya sangat agresif dalam menjajal teknologi marketing yang memudahkan pekerjaan mereka. Bayangkan sekarang hampir semua pekerjaan digital marketing dapat dilakukan dengan teknologi, misalnya software CRM, SEO tool, platform email marketing, chatbot, dan banyak lagi.
Hampir semua kebutuhan digital marketing dapat dibantu dengan teknologi jaman sekarang. Namun, kemudahan ini membuat B2B berasumsi kalau automasi dan teknologi muktahir lebih penting daripada orang yang menjalankannya.
Sayangnya, asumsi ini hanya separuh benar. Seorang ahli juga diperlukan untuk menjalankan strategi marketing yang baik, mau B2B atau B2C. Bayangkan kamu diberikan alat masak, petunjuk masak, dan bahan masakan untuk membuat rendang, kamu pasti akan tetap bisa membuat rendang yang enak. Tapi, jika semua yang kamu dapat tadi diberikan ke seorang koki ahli masakan padang, maka dia mungkin akan membuat rendang terbaik. Seperti itu juga bagaimana seorang ahli marketing, sangat penting untuk menjalankan alat dan strategi marketing.
Penutup
Sekarang, kita tidak bisa lagi menganggap B2B harus kaku dan tidak mungkin sefleksibel B2C dalam strategi marketingnya. Digital marketing yang dijalankan B2B sekarang harus bisa mengerti kalau mereka bukan berkomunikasi dengan perusahaan namun orang-orang didalam perushaan itu.
Jika kamu ingin tau bagaimana menciptakan B2B yang fun, lebih dekat dengan sisi manusia, pelajari produk OCA yang bisa mendekatkan kamu dengan konsumen kamu.
