Email marketing masih menjadi senjata andalan banyak bisnis untuk berkomunikasi langsung dengan pelanggan. Namun, strategi ini bisa menjadi pedang bermata dua bagi bisnis, karena berpotensi efektif atau justru merusak citra sebuah brand.

Penggunaan email marketing bisa memberikan akses langsung ke inbox pelanggan, tanpa perantara algoritma. Dengan sifatnya yang personal ini, pelanggan bisa jadi lebih sensitif. Oleh karena itu, kamu perlu berhati-hati dalam mengirimkan email marketing dengan memperhatikan subject email, frekuensi pengiriman, bahkan hingga desain. Nah, memperhatikan hal-hal seperti itu bisa menghindari kamu dari kesalahan email marketing. Tentunya dengan membuat email yang dipersonalisasi, relevan, hingga bisa meningkatkan keterlibatan dan mendorong konversi pelanggan.
Berikut 10 kesalahan email marketing yang sering terjadi dan bagaimana bisnis kamu bisa menghindarinya.
Daftar Kesalahan Email Marketing yang Wajib Dihindari!
Untuk memaksimalkan potensi email marketing, penting bagi bisnis untuk menghindari kesalahan-kesalahan mendasar yang sering dianggap sepele. Tanpa strategi yang tepat, email yang bisnis kirim bisa berakhir tidak dibaca, dihapus, atau lebih buruknya dilaporkan sebagai spam.
1. Mengirim Email Tanpa Izin Berpotensi Spam
Banyak bisnis masih menganggap kalau mengirim email tanpa izin pengguna dapat memperluas jangkauan. Tak jarang, bahkan ada bisnis yang mengirim email ke seluruh kontak mereka, bahkan kepada pengguna yang tidak pernah bersedia dikirimkan email.
Jika kamu termasuk bisnis yang pernah memiliki mindset seperti itu, kamu perlu mengetahui fakta berikut:
- Pelanggan yang tidak memberikan izin cenderung mengabaikan email
- Menandakan email sebagai spam
- Email dikirim tanpa izin bisa merusak reputasi bisnis karena tidak menghargai consent pelanggan
Supaya email dari bisnismu tetap relevan dengan pelanggan, coba bangun list email secara organik. Misalnya, kamu bisa gunakan formulir dengan checkbox persetujuan bahwa mereka ingin menerima pesan promosi dari bisnismu. Dengan begitu, pesan hanya dikirimkan ke orang-orang yang memang tertarik.
2. Subjek Email Tidak Menggugah Rasa Ingin Tahu
Judul email adalah penentu pertama apakah email kamu akan dibuka atau tidak. Sayangnya, banyak brand menggunakan subjek yang terlalu generik, clickbait, atau tidak relevan dengan isi email.
Contoh yang buruk:
“Dapatkan sekarang!”
(tanpa konteks, tanpa urgensi, tanpa nilai)
Gunakan pendekatan personal, spesifik, dan sesuai dengan minat audiens. Coba A/B testing untuk mencari gaya subjek yang paling disukai pelanggan bisnismu.
3. Desain Tidak Mobile-Friendly
Sebanyak 47% orang membuka email lewat aplikasi mobile. Jika desain email kamu berantakan ketika dibuka di ponsel, pelanggan berpotensi langsung menutup email tersebut.
Dengan begitu, pastikan supaya email kamu selalu menggunakan template yang responsif. OCA Blast sebagai platform kirim email otomatis menyediakan layout email yang bisa menyesuaikan tampilan di mobile ataupun desktop.
4. Jadwal Kirim Tidak Konsisten dan Tidak Relevan
Mengirim email terlalu sering bisa membuat pelanggan terganggu. Sebaliknya, terlalu jarang mengirim bisa membuat brand kamu dilupakan.
Contoh kesalahan umum:
- Kirim email promosi setiap hari
- Kirim email hanya saat butuh penjualan
Buat jadwal kirim yang konsisten dan relevan. Misalnya, kamu bisa mengirim newsletter mingguan serta campaign bulanan yang bisa menarik perhatian. Gunakan automation untuk menyesuaikan waktu kirim berdasarkan customer behavior.
5. Email Tidak Dipersonalisasi
Membuat email yang sifatnya satu untuk semua membuat bisnismu terasa lebih kaku dan berpotensi kehilangan engagement besar. Ini karena pelanggan ingin merasa dipahami, bukan hanya ditawari diskon
Personalisasi lebih dari sekadar menyebut nama. Gunakan data pelanggan untuk menyusun konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Contoh:
- Rekomendasi produk berdasarkan riwayat beli
- Penawaran khusus berdasarkan lokasi atau ulang tahun
Dengan fitur otomatis dari OCA, semua ini bisa diatur hanya dengan beberapa klik.
6. CTA Tidak Jelas = Tidak Ada Aksi
Email tanpa CTA yang jelas sama saja seperti memberi informasi tanpa arah. Pembaca bingung harus ngapain.
Kesalahan umum:
- CTA tersembunyi
- Gunakan teks yang tidak menggugah seperti “Klik di sini”
- Tidak ada CTA sama sekali
Letakkan CTA di bagian menonjol, gunakan warna kontras, dan buat pesannya tegas seperti:
- “Dapatkan Gratis Ongkir Sekarang”
- “Coba Demo Gratis”
7. Tidak Melakukan Testing
Banyak brand hanya mengandalkan intuisi saat mengirim email tanpa melakukan A/B testing atau uji coba kecil. Dampaknya, bisnis tidak tahu mana strategi yang berhasil dan mana yang tidak.
Supaya hasil lebih terukur, lakukan A/B testing dan evaluasi secara berkala. Dalam A/B testing ini kamu perlu mencoba dua versi email. Sebagai contoh:
- Judul A vs B
- Gambar besar vs minimalis
- Satu CTA vs dua CT
Lewat data dari A/B testing, kamu bisa mengambil keputusan yang lebih tepat dan hasilnya pun bisa dioptimalkan.
8. Tidak Menyediakan Tombol Unsubscribe yang Mudah Diakses
Pelanggan bisa sewaktu-waktu merasa kurang relevan dengan email yang mereka subscribe. Menurut data, dari 100 email terkirim akan ada 2-3 penerima yang mengklik unsubscribe (berhenti berlangganan).
Sebab takut kehilangan pelanggan, beberapa brand justru menyembunyikan tombol ini. Namun, menyembunyikan tombol berhenti berlangganan bisa menjadi bumerang bagi bisnis. Pelanggan yang kesulitan berhenti berlangganan email berpotensi melaporkan email dari bisnismu sebagai spam. Hal ini bisa menurunkan reputasi email kamu secara keseluruhan.
Kamu bisa meletakkan tombol unsubscribe di bagian bawah enaik supaya bisa memudahkan penerima berhenti berlangganan saat mereka merasa email sudah kurang relevan. Di OCA kamu bisa mengatur frekuensi pengiriman pesan dengan fitur scheduler supaya tidak terlalu mengganggu pelanggan.
9. Tidak Menganalisis Hasil Email Campaign
Mengirim email tanpa mengevaluasi hasil seperti berteriak di ruang kosong. Kamu tidak tahu siapa yang mendengar, apalagi siapa yang tertarik.
Kesalahan umum:
- Tidak lihat open rate, click rate, bounce rate
- Tidak tahu email mana yang performanya bagus
Gunakan dashboard analitik yang lengkap untuk melihat performa tiap kampanye. Di OCA, bisa langsung lihat data real-time dan bandingkan antar kampanye untuk terus meningkatkan strategi.
10. Tidak Relevan dengan Customer Journey
Memberikan konten yang tidak relevan dengan perjalanan pelanggan menjadikan isi email tidak relevan dengan posisi pelanggan dalam funnel.
Contoh:
- Kirim email promosi ke pelanggan yang baru daftar (padahal mereka belum tahu produk)
- Kirim reminder ke pelanggan yang sudah beli (tanpa segmentasi)
Pahami customer journey. Gunakan automation dan segmentasi untuk mengirim email sesuai tahap mereka, dari welcome email, edukasi, promosi, hingga re-engagement.
Email yang Baik Bukan yang Banyak, Tapi yang Tepat
Email marketing bukan soal berapa banyak email yang dikirim setiap harinya, tetapi seberapa relevan, personal, dan nyaman email itu bagi pelanggan.
Dengan menghindari 10 kesalahan di atas, bisnis bisa:
- Meningkatkan open rate dan engagement
- Membangun hubungan yang lebih sehat dengan pelanggan
- Mengubah email dari sekadar promosi menjadi pengalaman
Jika kamu ingin mulai email marketing tanpa ribet, OCA siap bantu dengan fitur lengkap: dari automation, template builder, personalisasi, hingga analitik real-time. Buat email marketing kamu lebih relevan dan konsisten bersama OCA!

Leave a Reply